Employee involvement

Employee involvement merupakan label yang belakangan ini digunakan untuk menggambarkan seperangkat praktek dan filosofi yang dimulai dengan gerakan quality-of-work-life/QWL (kualitas-kehidupan kerja)  di akhir 1950-an. Sebuah asumsi yang mendasari banyak literatur employee involvementyaitu bahwa keterlibatan karyawan akan mengarah pada produktivitas yang lebih tinggi. Meskipun premis ini terutama berdasarkan pada bukti anekdot dan banyak spekulasi, sekarang ini terdapat bukti penelitian yang mendukung hubungan tersebut. Sejumlah penelitian telah mendapati hubungan yang konsisten antara praktek employee involvement  dengan langkah-langkah seperti produktivitas, kinerja keuangan, kepuasan pelanggan, jam kerja, dan waste rate. Upaya untuk menjelaskan hubungan positif ini secara tradisional telah mengikuti gagasan bahwa karyawan yang terlibat dalam keputusan-keputusan pekerjaan akan mengalami peningkatan kepuasan kerja mereka dan produktivitas mereka. Employee involvement berupaya meningkatkan  input anggota  menjadi  keputusan yang mempengaruhi  kinerja organisasi dan kesejahteraan karyawan. Hal ini dapat dikemukakan dalam  bentuk empat elemen kunci.


1.  Kekuasaan.
Unsur ini membekali karyawan dengan otoritas  untuk membuat keputusan yang berhubungan dengan pekerjaan dalam berbagai isu seperti metode kerja, jobdesk, hasil kinerja, layanan pelanggan, dan seleksi karyawan. Besarnya kekuasaan yang dapat diberikan kepada karyawan dapat  berbeda-beda, mulai hanya meminta mereka untuk memberikan masukan dalam keputusan yang akan diambil  manajer, sampai permintaan untuk bekerjasama dalam pengambilan keputusan, hingga karyawan mengambil keputusan sendiri.

2.Informasi.
Informasi yang relevan sangat penting untuk membuat keputusan yang efektif. Hal ini mempermudah setiap karyawan untuk mengetahui tugas-tugas yang sesuai dengan jabatannya. Keterlibatan juga terjadi ketika para karyawan mendengar informasi pesan, mempercayai informasi pesan tersebut lalu melakukan aksi berdasarkan informasi pesan tersebut.Organisasi dapat meningkatkan employee involvement dengan memastikan bahwa informasi yang diperlukan sampai kepada karyawan. Hal ini dapat mencakup informasi tentang rencana bisnis, kondisi persaingan, teknologi dan metode kerja yang baru, serta gagasan untuk perbaikan organisasi.

3. Pengetahuan dan keterampilan.
Employee involvement memberikan kontribusi pada efektivitas organisasi bila karyawan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengambil keputusan yang baik. Organisasi dapat memfasilitasi employee involvement dengan menyelenggarakan program pelatihan dan pengembangan anggota demi peningkatan pengetahuan dan keterampilan anggota organisasi. Pembelajaran dapat meliputi berbagai keahlian yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan memahami bagaimana bisnis beroperasi.

4.  Reward.
Karena orang pada umumnya senang melakukan hal-hal yang membuat mereka diakui, maka penghargaan dapat memberi pengaruh yang kuat agar karyawan mau terlibat dalam organisasi. Keterlibatan karyawan dapat memberikan imbalan internal, seperti perasaan harga diri dan prestasi kepada karyawan. Penghargaan eksternal, seperti gaji dan promosi, dapat memperkuat employee involvement terlebih ketika mereka terhubung langsung dengan hasil kinerja yang merupakan hasil dari partisipasi dalam pengambilan keputusan.

Empat unsur tersebut memberikan kontribusi pada keberhasilan employee involvement  dengan menentukan seberapa besar partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan yang mungkin dilakukan dalam organisasi. Semakin  keempat elemen diterapkan di seluruh organisasi, semakin besar keterlibatan karyawan. Selain itu, karena empat unsur employee involvement saling bergantung, maka secara bersama-sama keempatnya membawa perubahan untuk mendapatkan hasil positif. Misalnya, jika anggota organisasi mendapat lebih banyak kekuasaan dan otoritas untuk mengambil keputusan, tetapi tidak memiliki informasi atau pengetahuan dan keterampilan untuk pengambilan keputusan yang baik, maka nilai  keterlibatan cenderung diabaikan. Demikian pula, peningkatan kekuasaan, informasi, dan pengetahuan dan keterampilan karyawan, tetapi tidak mengaitkan  penghargaan akibatnya akan  memberikan sedikit insentif kepada anggota untuk memperbaiki kinerja organisasi. 

Partisipasi akan meningkat apabila mereka menghadapi suatu situasi yang penting untuk mereka diskusikan bersama, dan salah satu situasi yang perlu didiskusikan bersama tersebut adalah kebutuhan serta kepentingan pribadi yang ingin dicapai oleh pegawai dalam organisasi. Apabila kebutuhan tersebut dapat terpenuhi hingga pegawai memperoleh kepuasan kerja, maka pegawaipun akan menyadari pentingnya memiliki kesediaan untuk menyumbangkan usaha dan kontribusi bagi kepentingan organisasi. Sebab hanya dengan pencapaian kepentingan organisasilah, kepentingan merekapun akan lebih terpuaskan   
       . 
Setiap organisasi selalu berupaya agar para anggota yang terlibat dalam kegiatan organisasi dapat memberikan prestasi dalam membentuk produktivitas setinggi mungkin untuk mewujudkan tujuan yang telah di tetapkan sebelumnya. Upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya merupakan kewajiban manajemen dalam organisai untuk menciptakan serangkaian hubungan antara orang-orang dalam organisasi. Adanya penghargaan dan informasi yang akurat dapat memotivasi anggota untuk lebih terlibat dalam organisasi, sehingga dapat meningkatkan produktivitas anggota organisasi tersebut.

Artikel Terkait